in

Kehidupan Para Blogger Musik di Indonesia

Music Blogger
Kehidupan Para Blogger Musik di Indonesia

Hingga kini, saya belum dapat memahami dengan jelas mengapa blog musik dan profesi blogger musik belum menjadi sebuah sinergi kreatifitas yang begitu akrab dikenal di Indonesia. Bandingkan misalnya di ‘negeri asal Google’, yang tak sedikit yang terang-terangan menyebut dirinya sebagai blogger musik. Profesi blogger musik bukan lagi hanya sekadar hobi ngeblog, tapi lebih ke perannya sebagai jurnalis musik, ‘IT(music) preneur’ bahkan kritikus musik yang tajam dan independen.

Saya ingin memberi dua contoh blog musik yang dikelola serius, Antiquit dan Gun Shy Assasin. Antiquit adalah blog yang digagas blogger musik bernama Skwerl yang pernah berurusan dengan FBI dan hukum berkaitan hak kekayaan intelektual Amerika karena menyebarkan (leak) beberapa single dari album Guns N’ Roses, “Chinese Democracy” tahun 2008. Gun Shy Assasin adalah blog musik yang dikelola oleh Chris Harris. Harris pernah bekerja di MTV sebagai jurnalis musik dan menulis musik di beberapa majalah musik Amerika, seperti Rolling Stone, Alternative Press, dan lain-lain. Kedua blogger musik ini menulis artikel musik dengan semangat independen. Artinya, mereka menulis artikel berupa review maupun features dari sudut pandang dan keyakinan mereka sendiri. Dengan demikian, kadangkala membaca artikel musik di blog mereka lebih ‘seru’ dibandingkan artikel mereka yang diterbitkan di media ‘mainstream’.

Lalu, mengapa blogger musik belum populer di Indonesia? Saya sendiri heran mengapa masih sedikit blogger Indonesia yang mau fokus menjadi blogger musik? Bandingkan misalnya dengan blogger otomotif yang jumlahnya bahkan mencapai ratusan. Padahal, musik adalah industri kreatif yang juga begitu besar—sebuah industri yang pastinya sangat membutuhkan media sebagai pendampingnya. Pertanyaan ini bisa dijawab dengan sedikit kemungkinan. Di antaranya, kemungkinan, bahwa musik masih dominan ke hal praktis saja, menjadi musisi misalnya. Kemungkinan lain, banyak yang suka musik namun tidak sedikit yang memiliki kemauan dan kemampuan untuk menuliskan gagasan dan apa yang dilihat dan didengarnya tentang musik. Dan kemungkinan yang dapat diterima akal sehat, menjadi blogger musik tidak selalu menguntungkan dari segi materi, meskipun itu tidak selalu benar. Tak sedikit blogger yang terjebak dengan mimpi surga “mendulang uang lewat blog” dengan cara-cara yang kebanyakan sangat komersil. Sehingga, orang tidak begitu banyak waktu dan peduli untuk ‘blogging’ hal-hal yang spesifik dan membutuhkan ‘sedikit’ keseriusan.

Kembali ke pertanyaan awal tadi—apakah sebenarnya blog musik dan bagaimana mereka bekerja? Saya akan mencoba menjelaskannya satu-persatu berdasarkan pemahaman subjektif saya. Pada prinsipnya blog merupakan media online yang terdiri dari konten-konten berupa artikel dan foto yang ditulis secara personal dengan konten yang lebih terfokus pada satu bidang. Blog bisa berupa website dengan menggunakan nama domain pribadi atau domain pribadi yang ‘menumpang’ pada penyedia domain dan hosting blog gratis, seperti Blogspot.com, WordPress.com, Tumblr.com, Myspace.com dan lain-lain. Blogger sejati bekerja seperti jurnalis dan ‘peneliti’ yang jeli. Mereka mencari informasi yang mereka anggap penting untuk disebarkan dan mereka menulisnya dari sudut pandang personal dan dengan sejumlah data dan informasi pendukung untuk dibagikan kepada banyak orang melalui internet. Bedanya, seorang blog bebas dari ‘hambatan’ seorang editor karena ia memiliki kekuasaan penuh atas medianya (blog). Sehingga ia memiliki kebebasan untuk menyampaikan informasi yang ia peroleh untuk disebarkan kepada banyak orang. Namun, etikanya, mereka juga harus mampu bertanggungjawab dengan apa yang mereka tulis. Bila tidak, mereka tetap saja bisa terjerat hukum apabila menulis artikel dengan tujuan menyudutkan pihak tertentu, mencuri data, atau mempublikasikan sesuatu yang bersifat ilegal, plagiat, membeberkan aib seseorang tanpa bukti akurat atau membuat opini yang tidak memiliki bukti yang argumentatif.

Seorang blogger musik akan menulis artikel-artikel yang berkaitan tentang musik saja—bukan yang lain. Ia bisa menulis review sebuah konser, menulis opininya tentang sebuah hal-hal menarik seputar musik, mereview album, membahas profil musisi atau band, menulis aktivitas komunitas musik, mengkritik, memuja dan memuji band tertentu atau mempromosikan band yang baru saja merilis album, dan masih banyak lagi tentunya. Bagaimana seorang blogger musik bertahan dan apa peran mereka? Seorang blogger yang memiliki blog dengan reputasi bagus akan menjadi ‘media’ yang dipertimbangkan untuk banyak hal dalam urusan musik. Kali ini Anda mungkin mengerti maksud saya. Seorang blogger musik dapat membuat portfolionya sendiri, memasang rate iklan di blognya untuk sebuah program promosi tertentu. Mereka juga dapat menjadi ‘media’ musik yang lebih objektif bagi para musisi atau band tanpa harus selalu bergantung pada label rekaman dan media massa mainstream.

Blog musik adalah sebuah media independen yang sangat berpotensi untuk memiliki peran besar untuk menjaring komunitas yang fanatik di mana komunitas musik dan blognya tanpa harus selalu tunduk kepada kekuatan si pemasang iklan atau kepentingan label rekaman yang terkadang mengandalkan premis “demi selera pasar” dalam industri musik—padahal dalam industri musik, musik itu sendirilah sebenarnya yang menentukan selera pasar! Blogger musik juga memiliki peran besar sebagai kritikus musik yang objektif.

Mereka adalah kritikus yang seharusnya tajam memberikan masukan terhadap industri musik, sikap kapitalisme label mainstream, mengkritik fenomena musik yang seolah mengajak seluaruh rakyat Indonesia untuk ber-‘berboyband/girl ria’—demi selera pasar tadi, misalnya. Apalagi, saya melihat kritikus musi di Indonesia belakangan ini kebanyakan sudah cenderung ‘membela’ industri musik kapitalis yang akhirnya kerap mengabaikan diri mereka sebagai kritikus yang seharusnya tetap (dan harus selalu) berpihak pada penikmat, penggemar dan penggiat musik—bukan kepada penjual musik yang selalu ‘mendewakan’ untung.

Jadi, peran blogger musik seharusnya dapat ‘mengembalikan mereka ke jalan yang benar’ juga. Dengan sedikit gambaran di atas, saya pikir, menjadi blogger musik adalah sebuah pilihan profesi yang tepat bila ingin eksis di musik. Atau, bila Anda tidak punya kesempatan untuk menjadi musisi namun tetap mencintai dan ingin melontarkan gagasan-gagasan Anda tentang musik, menjadi blogger musik adalah ‘jalan hidup’ yang benar dan profesional. Dan paling penting ialah blog dan blogger musik mampu berperan penting untuk memberikan pencerahan baru kepada industri musik Indonesia yang lebih kritis, kreatif dan tidak lagi ‘dikangkangi’ kapitalis buta yang kerap mengabaikan makna kualitas dalam musik itu sendiri!

What do you think?

145 points
Upvote Downvote

Total votes: 1

Upvotes: 1

Upvotes percentage: 100.000000%

Downvotes: 0

Downvotes percentage: 0.000000%

Comments

Leave a Reply

One Ping

  1. Pingback:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Loading…

Loading…

Comments

comments

Life, Time, Rain or Rock Songs

Washed Out – Against The Clock